Hari 191

Percaya Kepada Tuhan

Kebijaksanaan Mazmur 82:1–8
Perjanjian Baru Kisah Para Rasul 27:13–44
Perjanjian Lama 2 Raja-Raja 18:1–19:13

pengantar

Salah satu rintangan terbesar bagi iman adalah penderitaan orang yang tidak bersalah. Biasanya ini adalah salah satu pertanyaan pertama yang diangkat dalam kelompok kecil Alpha: 'Jika ada Tuhan yang mencintai kita, mengapa ada begitu banyak penderitaan di dunia? Mengapa ada ketidakadilan dan penindasan?

Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dan perlu tetapi tidak ada jawaban yang mudah. Namun Tuhan sanggup menemui kita di tengah penderitaan dan perjuangan. Luar biasanya, seringkali orang-orang yang telah melalui penderitaan terbesar memiliki iman yang kuat. Mereka bersaksi akan kehadiran Allah bersama mereka, memperkuat, dan menghibur mereka ketika mereka sedang berada di tengah-tengah penderitaan mereka. Betsie ten Boom, saat dia terbaring sekarat di kamp konsentrasi Ravensbruck, dia berpaling ke kakaknya Corrie dan berkata, 'Kita harus memberi tahu mereka bahwa tidak ada lubang yang begitu dalam yang Dia tidak dapat atasi. Mereka akan mendengarkan kita, Corrie, karena kita telah melalui lubang tersebut sebelumnya.’

Iman adalah dengan percaya pada Tuhan. Umat Tuhan di Alkitab memandang dunia sebagai penderitaan. Tetapi mereka percaya kepada Tuhan terlepas dari apa yang mereka lihat.

Kebijaksanaan

Mazmur 82:1–8

Allah dalam sidang ilahi

82Mazmur Asaf.

Allah berdiri dalam sidang ilahi,
  di antara para allah Ia menghakimi:
2 “Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim
  dan memihak kepada orang fasik?                           Sela
3 Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim,
  belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan!
4 Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin,
  lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!”
5 Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa,
  dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi.
6 Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah,
  dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. –
7 Namun seperti manusia kamu akan mati
  dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.”
8 Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi,
  sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa.

Komentar

Percayalah pada Tuhan di tengah ketidakadilan dan penindasan

Bagaimana kita menanggapi semua ketidakadilan di dunia? Pemazmur percaya bahwa pada akhirnya Tuhan akan meluruskan segalanya: ‘sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa.’ (Ay.8b).

Hidup di bawah sistem keadilan yang baik merupakan suatu berkat besar. Ini adalah kutukan yang mengerikan untuk hidup di bawah para hakim yang korupsi dan tidak kompeten. Tetapi pada akhirnya, Tuhan akan memanggil mereka untuk bertanggung jawab.

'Tuhan berdiri dalam sidang ilahi, diantara para (ilah) Ia menghakimi’ (Ay.1). Percayalah bahwa Tuhan adalah 'Presiden' - Dia memegang kendali tertinggi.

‘Tuhan… menempatkan semua hakim pada kursi penghakiman. "Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik?”’ (Ay.2). Tetapi iman kepada "Kepresidenan" yaitu Allah tidak boleh menyebabkan kepuasan atau kepasifan. Pemazmur bergairah untuk melihat perubahan dunia.

Kita tidak hanya mempercayai Tuhan, tetapi juga kita memiliki kewajiban untuk melakukan segala yang ada di dalam kekuasaan kita untuk melihat bahwa keadilan telah dilakukan. Kita harus bertindak atas nama orang miskin: ‘Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik’ (Ay.3-4).

Suatu saat akan tiba ketika segalanya akan terjadi; ketidakadilan akan dihapus dan akan ada pembebasan dari, misalnya, pemerintah yang korupsi. Dia berdoa: 'Bangunlah, ya Tuhan, hakimilah bumi' (Ay.8a).

Sementara itu kita juga berharap pada penghakiman terakhir dari Tuhan, kita mengantisipasi keadilan itu dengan bertindak sekarang atas nama orang miskin dan yang tertindas. Kita harus mengajukan tantangan yang sama kepada mereka yang berkuasa, 'Berapa lama Anda akan membela penyebab ketidakadilan?'

Doa

Tuhan, terima kasih bahwa suatu hari akan ada keadilan bagi semua orang. Engkau akan melakukan hal yang benar. Sementara itu, bantu aku untuk bertindak atas nama orang miskin dan yang tertindas di dunia.

Perjanjian Baru

Kisah Para Rasul 27:13–44

13 Pada waktu itu angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Mereka menyangka, bahwa maksud mereka sudah tentu akan tercapai. Mereka membongkar sauh, lalu berlayar dekat sekali menyusur pantai Kreta.

Kapal terkandas

14 Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin “Timur Laut”. 15 Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing. 16 Kemudian kami hanyut sampai ke pantai sebuah pulau kecil bernama Kauda, dan di situ dengan susah payah kami dapat menguasai sekoci kapal itu. 17 Dan setelah sekoci itu dinaikkan ke atas kapal, mereka memasang alat-alat penolong dengan meliliti kapal itu dengan tali. Dan karena takut terdampar di beting Sirtis, mereka menurunkan layar dan membiarkan kapal itu terapung-apung saja. 18 Karena kami sangat hebat diombang-ambingkan angin badai, maka pada keesokan harinya mereka mulai membuang muatan kapal ke laut. 19 Dan pada hari yang ketiga mereka membuang alat-alat kapal dengan tangan mereka sendiri. 20 Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami. 21 Dan karena mereka beberapa lamanya tidak makan, berdirilah Paulus di tengah-tengah mereka dan berkata: “Saudara-saudara, jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini! 22 Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. 23 Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, 24 dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. 25 Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. 26 Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.”

27 Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut Adria. Tetapi kira-kira tengah malam anak-anak kapal merasa, bahwa mereka telah dekat daratan. 28 Lalu mereka mengulurkan batu duga, dan ternyata air di situ dua puluh depa dalamnya. Setelah maju sedikit mereka menduga lagi dan ternyata lima belas depa. 29 Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. 30 Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. 31 Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: “Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.” 32 Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut.

33 Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: “Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. 34 Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.”

35 Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan. 36 Maka kuatlah hati semua orang itu, dan mereka pun makan juga. 37 Jumlah kami semua yang di kapal itu dua ratus tujuh puluh enam jiwa. 38 Setelah makan kenyang, mereka membuang muatan gandum ke laut untuk meringankan kapal itu. 39 Dan ketika hari mulai siang, mereka melihat suatu teluk yang rata pantainya. Walaupun mereka tidak mengenal daratan itu, mereka memutuskan untuk sedapat mungkin mendamparkan kapal itu ke situ. 40 Mereka melepaskan tali-tali sauh, lalu meninggalkan sauh-sauh itu di dasar laut. Sementara itu mereka mengulurkan tali-tali kemudi, memasang layar topang, supaya angin meniup kapal itu menuju pantai. 41 Tetapi mereka melanggar busung pasir, dan terkandaslah kapal itu. Haluannya terpancang dan tidak dapat bergerak dan buritannya hancur dipukul oleh gelombang yang hebat.

42 Pada waktu itu prajurit-prajurit bermaksud untuk membunuh tahanan-tahanan, supaya jangan ada seorang pun yang melarikan diri dengan berenang. 43 Tetapi perwira itu ingin menyelamatkan Paulus. Karena itu ia menggagalkan maksud mereka, dan memerintahkan, supaya orang-orang yang pandai berenang lebih dahulu terjun ke laut dan naik ke darat, 44 dan supaya orang-orang lain menyusul dengan mempergunakan papan atau pecahan-pecahan kapal. Demikianlah mereka semua selamat naik ke darat.

Komentar

Percayalah kepada Tuhan di tengah-tengah bencana dan kekacauan

Ketika ada yang salah dalam hidup apakah Anda terkadang tergoda untuk panik? Saya tahu karena saya juga pernah mengalaminya. Jika semuanya berjalan baik dalam hidup kita, kita relatif mudah untuk percaya kepada Tuhan. Namun, ada kalanya kita menghadapi tantangan besar terhadap iman kita. Di antara banyak tantangan, cobaan, dan penderitaan, Paulus ‘karam’ tiga kali (2 Korintus 11:23b – 25).

Dalam renungan hari ini, kita membaca salah satu dari kesempatan ini. Pada mulanya, Paulus tampak seolah-olah salah dalam memprediksi bencana ketika cuaca sempurna untuk perjalanan (Kis. 27:13), tetapi kemudian angin topan mulai melanda (Ay.14). Itu pasti adalah pengalaman yang mengerikan. Lukas menulis, '[mereka] akhirnya menyerahkan semua harapan untuk diselamatkan' (Ay.20).

Namun, Paulus terus mempercayai Tuhan, memberi tahu mereka untuk 'beriman kepada Allah', bahwa Tuhan masih memegang kendali dan bahwa Dia telah berjanji untuk menyelamatkan mereka (Ay.23–25).

Yang mereka butuhkan dalam mengatasi bencana ini adalah dengan mendengarkan Paulus. Luar biasanya, Paulus adalah seorang narapidana akan tetapi tampaknya dia bertanggung jawab penuh. Dia mengatakan kepada mereka, 'Saudara-saudara jika sekiranya nasihatku dituruti’ (Ay.21). Dia adalah orang yang menghentikan para awak kapal yang berusaha melarikan diri dari kapal (Ay.30).

Ini adalah contoh kepemimpinan yang bagus tanpa gelar atau jabatan. Para pemimpin terbaik mampu memimpin dengan pengaruh dan bujukan.

Gejolak itu memberi Paulus kesempatan untuk berbicara tentang imannya. Dia mengambil kesempatan meskipun dia pasti sangat menderita karena kelaparan dan dampak dari badai.

Paulus melihat dirinya sebagai milik Allah (‘Allah yang adalah Allahku’) dan menjadi pelayannya (‘kepada siapa aku melayani’). Tetapi Tuhan bukan hanya pemilik dan tuannya; Paulus mempercayai Tuhan dan memiliki keyakinan yang mendalam akan kasihnya. Dia tahu bahwa Tuhan menginginkan yang terbaik untuknya, seperti yang Dia lakukan untuk Anda hari ini.

Paulus meyakinkan mereka, 'Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya' (Ay.34). Dan, 'sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Tuhan di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan' (Ay.35).

Meskipun terjadi bencana, Tuhan memegang kendali tertinggi: 'Pada waktu itu prajurit-prajurit bermaksud untuk membunuh tahanan-tahanan, supaya jangan ada seorang pun yang melarikan diri dengan berenang. Tetapi perwira itu ingin menyelamatkan Paulus. Karena itu ia menggagalkan maksud mereka’ (Ay.42-43a).

Tuhan memunculkan sisi baik Paulus di mata orang-orang dan juga di mata Tuhan sendiri. Dan hasilnya ‘semua orang mencapai daratan dengan aman’ (Ay.44).

Tidak ada yang bisa menghentikan Tuhan untuk menyelamatkan Paulus dan menggunakan dia dalam menyelesaikan tujuan-Nya dan menyelamatkan jiwa.

Doa

Tuhan, terima kasih bahwa Engkau dapat melindungi aku bahkan ketika bencana melanda. Ketika ada yang tampak salah, bantu aku untuk tidak takut melainkan untuk mempertahankan keberanianku dan untuk memiliki keyakinan kepada Engkau.

Perjanjian Lama

2 Raja-Raja 18:1–19:13

Hizkia, raja Yehuda

(2 Taw. 29:1-2)
18Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. 2 Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. 3 Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. 4 Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan. 5 Ia percaya kepada Tuhan, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia. 6 Ia berpaut kepada Tuhan, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah Tuhan yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa. 7 Maka Tuhan menyertai dia; ke mana pun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya. 8 Dialah yang mengalahkan orang Filistin sampai ke Gaza dan memusnahkan daerahnya, baik menara-menara penjagaan maupun kota-kota yang berkubu.

9 Dalam tahun keempat zaman raja Hizkia – itulah tahun ketujuh zaman Hosea bin Ela, raja Israel – majulah Salmaneser, raja Asyur, menyerang Samaria dan mengepungnya. 10 Direbutlah itu sesudah lewat tiga tahun; dalam tahun keenam zaman Hizkia – itulah tahun kesembilan zaman Hosea, raja Israel – direbutlah Samaria. 11 Raja Asyur mengangkut orang Israel ke dalam pembuangan ke Asyur dan menempatkan mereka di Halah, pada sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai, 12 oleh karena mereka tidak mau mendengarkan suara Tuhan, Allah mereka, dan melanggar perjanjian-Nya, yakni segala yang diperintahkan oleh Musa, hamba Tuhan; mereka tidak mau mendengarkannya dan tidak mau melakukannya.  

Yerusalem dikepung oleh Sanherib

(2 Taw. 32:1-19; Yes. 36:1-22)
13 Dalam tahun keempat belas zaman raja Hizkia majulah Sanherib, raja Asyur, menyerang segala kota berkubu negeri Yehuda, lalu merebutnya. 14 Hizkia, raja Yehuda, mengutus orang kepada raja Asyur di Lakhis dengan pesan: “Aku telah berbuat dosa; undurlah dari padaku; apa pun yang kaubebankan kepadaku akan kupikul.” Kemudian raja Asyur membebankan kepada Hizkia, raja Yehuda, tiga ratus talenta perak dan tiga puluh talenta emas. 15 Hizkia memberikan segala perak yang terdapat dalam rumah Tuhan dan dalam perbendaharaan istana raja. 16 Pada waktu itu Hizkia mengerat emas dari pintu-pintu dan dari jenang-jenang pintu bait Tuhan, yang telah dilapis oleh Hizkia, raja Yehuda; diberikannyalah semuanya kepada raja Asyur.

17 Sesudah itu raja Asyur mengirim panglima, kepala istana dan juru minuman agung dari Lakhis kepada raja Hizkia di Yerusalem disertai suatu tentara yang besar. Mereka maju dan sampai ke Yerusalem. Setelah mereka maju dan sampai di situ, mereka mengambil tempat dekat saluran kolam atas yang di jalan raja pada Padang Tukang Penatu. 18 Dan ketika mereka memanggil-manggil kepada raja, keluarlah mendapatkan mereka Elyakim bin Hilkia, kepala istana, dan Sebna, panitera negara, serta Yoah bin Asaf, bendahara negara. 19 Lalu berkatalah juru minuman agung kepada mereka: “Baiklah katakan kepada Hizkia: Beginilah kata raja agung, raja Asyur: Kepercayaan macam apakah yang kaupegang ini? 20 Kaukira bahwa hanya ucapan bibir saja dapat merupakan siasat dan kekuatan untuk perang! Sekarang, kepada siapa engkau berharap, maka engkau memberontak terhadap aku? 21 Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya. 22 Dan apabila kamu berkata kepadaku: Kami berharap kepada Tuhan, Allah kami, – bukankah Dia itu yang bukit-bukit pengorbanan-Nya dan mezbah-mezbah-Nya telah dijauhkan oleh Hizkia sambil berkata kepada Yehuda dan Yerusalem: Di depan mezbah yang di Yerusalem inilah kamu harus sujud menyembah! 23 Maka sekarang, baiklah bertaruh dengan tuanku, raja Asyur: Aku akan memberikan dua ribu ekor kuda kepadamu, jika engkau sanggup memberikan dari pihakmu orang-orang yang mengendarainya. 24 Bagaimanakah mungkin engkau memukul mundur satu orang perwira tuanku yang paling kecil? Padahal engkau berharap kepada Mesir dalam hal kereta dan orang-orang berkuda! 25 Sekarang pun, adakah di luar kehendak Tuhan aku maju melawan tempat ini untuk memusnahkannya? Tuhan telah berfirman kepadaku: Majulah menyerang negeri itu dan musnahkanlah itu!”

26 Lalu berkatalah Elyakim bin Hilkia, Sebna dan Yoah kepada juru minuman agung: “Silakan berbicara dalam bahasa Aram kepada hamba-hambamu ini, sebab kami mengerti; tetapi janganlah berbicara dengan kami dalam bahasa Yehuda sambil didengar oleh rakyat yang ada di atas tembok.” 27 Tetapi juru minuman agung berkata kepada mereka: “Adakah tuanku mengutus aku untuk mengucapkan perkataan-perkataan ini hanya kepada tuanmu dan kepadamu saja? Bukankah juga kepada orang-orang yang duduk di atas tembok, yang memakan tahinya dan meminum air kencingnya bersama-sama dengan kamu?” 28 Kemudian berdirilah juru minuman agung dan berserulah ia dengan suara nyaring dalam bahasa Yehuda. Ia berkata: “Dengarlah perkataan raja agung, raja Asyur! 29 Beginilah kata raja: Janganlah Hizkia memperdayakan kamu, sebab ia tidak sanggup melepaskan kamu dari tanganku! 30 Janganlah Hizkia mengajak kamu berharap kepada Tuhan dengan mengatakan: Tentulah Tuhan akan melepaskan kita; dan kota ini tidak akan diserahkan ke dalam tangan raja Asyur. 31 Janganlah dengarkan Hizkia, sebab beginilah kata raja Asyur: Adakanlah perjanjian penyerahan dengan aku dan datanglah ke luar kepadaku, maka setiap orang dari padamu akan makan dari pohon anggurnya dan dari pohon aranya serta minum dari sumurnya, 32 sampai aku datang dan membawa kamu ke suatu negeri seperti negerimu ini, suatu negeri yang bergandum dan berair anggur, suatu negeri yang beroti dan berkebun anggur, suatu negeri yang berpohon zaitun, berminyak dan bermadu; dengan demikian kamu hidup dan tidak mati. Tetapi janganlah dengarkan Hizkia, sebab ia membujuk kamu dengan mengatakan: Tuhan akan melepaskan kita! 33 Apakah pernah para allah bangsa-bangsa melepaskan negerinya masing-masing dari tangan raja Asyur? 34 Di manakah para allah negeri Hamat dan Arpad? Di manakah para allah negeri Sefarwaim, Hena dan Iwa? Apakah mereka telah melepaskan Samaria dari tanganku? 35 Siapakah di antara semua allah negeri-negeri yang telah melepaskan negeri mereka dari tanganku, sehingga Tuhan sanggup melepaskan Yerusalem dari tanganku?” 36 Tetapi rakyat itu berdiam diri dan tidak menjawab dia sepatah kata pun, sebab ada perintah raja, bunyinya: “Jangan kamu menjawab dia!” 37 Kemudian pergilah Elyakim bin Hilkia, kepala istana, dan Sebna, panitera negara, dan Yoah bin Asaf, bendahara negara, menghadap Hizkia, dengan pakaian yang dikoyakkan, lalu memberitahukan kepadanya perkataan juru minuman agung.

Yerusalem luput dari tangan Sanherib

(2 Taw. 32:20-23; Yes. 37:1-38)
19Segera sesudah raja Hizkia mendengar itu, dikoyakkannyalah pakaiannya dan diselubunginyalah badannya dengan kain kabung, lalu masuklah ia ke rumah Tuhan. 2 Disuruhnyalah juga Elyakim, kepala istana, Sebna, panitera negara, dan yang tua-tua di antara para imam, dengan berselubungkan kain kabung, kepada nabi Yesaya bin Amos. 3 Berkatalah mereka kepadanya: “Beginilah kata Hizkia: Hari ini hari kesesakan, hari hukuman dan penistaan; sebab sudah datang waktunya untuk melahirkan anak, tetapi tidak ada kekuatan untuk melahirkannya. 4 Mungkin Tuhan, Allahmu, sudah mendengar segala perkataan juru minuman agung yang telah diutus oleh raja Asyur, tuannya, untuk mencela Allah yang hidup, sehingga Tuhan, Allahmu, mau memberi hukuman karena perkataan-perkataan yang telah didengar-Nya. Maka baiklah engkau menaikkan doa untuk sisa yang masih tinggal ini!” 5 Ketika pegawai-pegawai raja Hizkia sampai kepada Yesaya, 6 berkatalah Yesaya kepada mereka: “Beginilah kamu katakan kepada tuanmu: Beginilah firman Tuhan: Janganlah engkau takut terhadap perkataan yang kaudengar yang telah diucapkan oleh budak-budak raja Asyur untuk menghujat Aku. 7 Sesungguhnya, Aku akan menyuruh suatu roh masuk di dalamnya, sehingga ia mendengar suatu kabar dan pulang ke negerinya; Aku akan membuat dia mati rebah oleh pedang di negerinya sendiri.” 8 Ketika juru minuman agung pulang, didapatinyalah raja Asyur berperang melawan Libna; sebab sudah didengarnya bahwa raja telah berangkat dari Lakhis. 9 Dalam pada itu raja mendengar tentang Tirhaka, raja Etiopia, berita yang demikian: “Sesungguhnya, ia telah keluar berperang melawan engkau,” maka disuruhnyalah kembali utusan-utusan kepada Hizkia dengan pesan: 10 “Beginilah harus kamu katakan kepada Hizkia, raja Yehuda: Janganlah Allahmu yang kaupercayai itu memperdayakan engkau dengan menjanjikan: Yerusalem tidak akan diserahkan ke tangan raja Asyur. 11 Sesungguhnya, engkau ini telah mendengar tentang yang dilakukan raja-raja Asyur kepada segala negeri, yakni bahwa mereka telah menumpasnya; masakan engkau ini akan dilepaskan? 12 Sudahkah para allah dari bangsa-bangsa, yang telah dimusnahkan oleh nenek moyangku, dapat melepaskan mereka, yakni Gozan, Haran, Rezef dan bani Eden yang di Telasar? 13 Di manakah raja negeri Hamat dan Arpad, raja kota Sefarwaim, raja negeri Hena dan Iwa?”

Komentar

Percayalah kepada Tuhan di tengah-tengah kejahatan dan kesusahan

Sangat melegakan untuk membaca, tentang seorang pria yang akhirnya 'percaya kepada Tuhan' (18: 5). Hizkia ‘percaya, bersandar dan yakin pada Tuhan’ (Ay.5). Dia menaruh seluruh kepercayaannya pada Allah Israel... Tuhan baginya, dan berpegang teguh kepada-Nya melalui semua petualangannya' (Ay.5–6).

Ketika Hizkia menjadi raja, salah satu tindakan pertamanya adalah menghancurkan semua hal yang menghalangi orang-orang mentaati Tuhan (Ay.1-4). Mungkin ada hal-hal dalam hidup Anda yang menjadi penghalang bagi Anda untuk mentaati Tuhan. Meskipun mereka mungkin tampak penting, tidak ada yang sepenting ketaatan kepada Allah. Tuhan ingin membantu kita untuk mematuhi-Nya - tanyakan kepada-Nya, dan Dia akan menyertai Anda seperti ia menyertai Hizkia: 'Maka Tuhan menyertai dia; ke mana pun juga ia pergi berperang, ia beruntung’ (Ay.7).

Pada 701 SM, Hizkia menghadapi musuh yang sangat kuat dalam bentuk raja Asyur yang mengejek dan mencemoohnya. Kisah ini bukan bualan semata; Anda dapat membaca tentang peristiwa-peristiwa sejarah ini tidak hanya di Alkitab tetapi juga di cerita kuno lainnya. Dalam catatan Sanherib tentang peristiwa-peristiwa tersebut, ia menulis, 'Mengenai Hizkia, orang Yahudi, ia tidak tunduk kepada penindasanku.' Dia berbicara dengan angkuh tentang Hizkia yang kewalahan dengan 'teror kemurkaan dari kemegahanku'.

Sanherib mencemooh kepercayaan Hizkia terhadap Tuhan (Ay.20, 22): 'Janganlah Hizkia mengajak kamu berharap kepada Tuhan... ia menyesatkan kamu ketika dia berkata, “Tuhan akan melepaskan kita.”' (Ay.30– 32).

Bagaimanapun, Hizkia tetap memenangkan rasa hormat dari rakyatnya karena mereka mengikuti perintahnya: 'Tetapi rakyat itu berdiam diri dan tidak menjawab dia sepatah katapun, sebab ada perintah raja, bunyinya: “Jangan kamu menjawab dia!”' (Ay.36).

Di hadapan musuhnya yang kuat, Hizkia berdoa. 'Segera sesudah raja Hizkia mendengar itu, dikoyakkanyalah pakaiannya dan diselubunginyalah badannya dengan kain kabung, lalu masuklah ia ke rumah Tuhan' (19:1). Seorang utusan mendatangi Nabi Yesaya dan memberi tahu dia, 'Beginilah kata Hizkia: Hari ini hari kesesakan, hari hukuman dan penistaan… maka baiklah engkau menaikkan doa untuk sisa yang masih tinggal ini’ (Ay.3–4).

Jawaban Yesaya adalah, 'Inilah yang dikatakan Tuhan: Jangan takut dengan apa yang kamu dengar' (Ay.6). Tidak hanya Hizkia sendiri yang percaya kepada Tuhan, tetapi dia juga mengajak orang-orang untuk percaya kepada Tuhan.

Selama bertahun-tahun, saya telah menulis mengenai daftar tantangan yang kami hadapi dengan berpegang pada ayat ini. Sungguh menakjubkan untuk melihat kembali selama bertahun-tahun dan melihat cara bagaimana Tuhan telah menuntun kita dalam berbagai hal.

Hari ini, tantangan apa pun yang Anda hadapi, tuliskan, percayalah pada Tuhan, percayalah bahwa Dia akan bersama Anda dan memberi Anda kesuksesan dalam apa pun yang Ia minta untuk Anda lakukan.

Doa

Tuhan, terima kasih bahwa aku dapat mempercayai Engkau dalam semua keadaan. Hari ini, aku bersujud di hadapan-Mu atas semua tantangan yang kuhadapi... Aku menaruh kepercayaan kepada-Mu.

Pippa menambahkan

Percayalah kepada Tuhan ketika segala sesuatu terlihat tidak baik:

2 Raja-Raja 18 Kisah Para Rasul 27:33–34

Tuhan dapat menjadikan apa yang tampaknya tidak mungkin terjadi.

reader

App

Download The Bible with Nicky and Pippa Gumbel app for iOS or Android devices and read along each day.

reader

Email

Subscribe now to receive The Bible with Nicky and Pippa Gumbel in your inbox each morning. You’ll get one email each day.

reader

Website

Start reading today’s devotion right here on the BiOY website.

Read now

Referensi

Corrie ten Boom, The Hiding Place (Hodder & Stoughton, 2004).

Unless otherwise stated, Scripture quotations taken from the Holy Bible, New International Version Anglicised, Copyright © 1979, 1984, 2011 Biblica, formerly International Bible Society. Used by permission of Hodder & Stoughton Publishers, an Hachette UK company. All rights reserved. ‘NIV’ is a registered trademark of Biblica. UK trademark number 1448790.

Scripture quotations marked (AMP) taken from the Amplified® Bible, Copyright © 1954, 1958, 1962, 1964, 1965, 1987 by The Lockman Foundation. Used by permission. (www.Lockman.org)

Scripture marked (MSG) taken from The Message. Copyright © 1993, 1994, 1995, 1996, 2000, 2001, 2002. Used by permission of NavPress Publishing Group.

The One Year® is a registered trademark of Tyndale House Publishers used by permission