Hari 306

Mengarahkan Pandangan Anda

Kebijaksanaan Mazmur 119:137–144
Perjanjian Baru Ibrani 3:1–19
Perjanjian Lama Yoel 1:1–2:17

pengantar

Ketika orang-orang Inggris ditanyai siapa orang Inggris yang terhebat sepanjang masa, Sir Winston Churchill biasanya menempati posisi teratas. Jika Anda bertanya pada orang Amerika siapa orang Amerika terhebat, mereka mungkin akan menjawab George Washington atau Abraham Lincoln. Jika Anda menanyai orang Yahudi di awal abad pertama Masehi siapa orang Yahudi terhebat, tanpa ragu mereka akan menjawab ‘Musa’. Musa adalah tokoh tertinggi dalam sejarah mereka. Dia telah menolong mereka dari perbudakan dan memberikan mereka hukum Taurat.

Penulis kitab Ibrani mendeskripsikan kepada orang Kristen-Yahudi betapa Yesus lebih besar dibandingkan Musa. Argumennya adalah, meskipun Musa hebat, Yesus berada pada tingkat yang sangat berbeda. Yesus adalah ‘pusat segala yang kita percayai’ (Ibrani 3:1); ‘Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya’ (Ay.3). ‘Musa memang setia sebagai pelayan’ (Ay.5); ‘Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya’ (Ay.6).

Topik untuk renungan hari ini adalah kesesakan dan kesusahan, masa ujian, dan cobaan dan kesengsaraan. Menurut Perjanjian Baru, rahasia untuk dapat mengatasi ini adalah mengarahkan pandangan Anda pada Yesus (Ay.1).

Kebijaksanaan

Mazmur 119:137–144

137 Engkau adil, ya TUHAN,
  dan hukum-hukum-Mu benar.
138 Telah Kauperintahkan peringatan-peringatan-Mu dalam keadilan
  dan dalam kesetiaan belaka.
139 Nyala cintaku menghabiskan aku,
  sebab para lawanku melupakan segala firman-Mu.
140 Janji-Mu sangat teruji,
  dan hamba-Mu mencintainya.
141 Aku ini kecil dan hina,
  tetapi titah-titah-Mu tidak kulupakan.
142 Keadilan-Mu adil untuk selama-lamanya,
  dan Taurat-Mu benar.
143 Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan,
  tetapi perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku.
144 Peringatan-peringatan-Mu adil untuk selama-lamanya,
  buatlah aku mengerti, supaya aku hidup.

Komentar

Kesesakan dan kesusahan

Dalam hidup kita biasanya ada beberapa hal yang menimbulkan kesesakan dan kesusahan pada Anda. Mungkin apa yang Anda lalui, atau anggota keluarga, atau teman dekat, atau yang berhubungan dengan pekerjaan atau pelayanan Anda.

Saya mengingat hal ketika saya mendengar pendeta Amerika, Rick Warren, berkata bagaimana dia dulu berpikir bahwa hidup adalah serangkaian pertempuran, berikut dengan masa-masa berkat. Kini, dia berpikir hidup di dalam dua jalur. Satu jalur adalah berkat, yang lainnya adalah pertempuran, dan terjadinya bersamaan.

Pemazmur jelas telah melalui masa-masa pertempuran: ‘Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan’ (Ay.143a).

Bagaimana respon kita? Jawaban pemazmur adalah tetap percaya pada Allah. Dia tetap percaya bahwa firman Allah ‘sangat dapat dipercaya’ (Ay.138): ‘hamba-Mu mencintainya... perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku’ (Ay.140,143).

Pemazmur mengarahkan pandangannya pada TUHAN: ‘Engkau adil, ya TUHAN’ (Ay.137a). Penyingkapan besar Perjanjian Baru adalah bahwa ‘Yesus adalah TUHAN’ (Roma 10:9). Pada Dialah Anda harus mengarahkan pikiran Anda.

Doa

TUHAN, terimakasih bahwa dalam masa-masa susah dan sulit, aku bisa mengarahkan pandangan pada-Mu dan percaya akan janji-janji-Mu.

Perjanjian Baru

Ibrani 3:1–19

Yesus lebih tinggi dari Musa

3Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, 2 yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musa pun setia dalam segenap rumah-Nya. 3 Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. 4 Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah. 5 Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, 6 tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.

Binasa karena murtad

7 Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus:
  “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya,
8 janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman
  pada waktu pencobaan di padang gurun,
9 di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku,
  sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya.
10 Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata:
  Selalu mereka sesat hati,
  dan mereka tidak mengenal jalan-Ku,
11 sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku:
  Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

12 Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. 13 Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. 14 Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. 15 Tetapi apabila pernah dikatakan:

“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya,
  janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”,

16 siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? 17 Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? 18 Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? 19 Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Komentar

Masa ujian

Iman yang tidak teruji tak bisa dipercaya. Cepat atau lambat, kita semua melalui masa-masa ujian. Dalam masa-masa ini, tantangannya adalah tetap beriman pada Allah, tidak mengeraskan hati, tetapi tetap lembut kepada Allah, tetap percaya terlepas dari semua kesulitan dan tantangan terhadap iman kita.

Selama masa-masa ujian ini, tiap kali Anda merasa seperti berbuat salah tetapi memilih untuk berbuat benar, Anda bertumbuh dalam kedewasaan rohani, hikmat, karakter, dan kesetiaan.

‘Musa pun setia’ (Ay.2). Tetapi Yesus, tentu saja, adalah contoh kesetiaan tertinggi. Yesus melalui latihan bertahun-tahun dan masa godaan besar di gurun. Bagaimanapun, Yesus ‘setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya’ (Ay.2).

Surat ini ditulis untuk sekelompok orang yang sedang melalui masa ujian dan aniaya. Ditulis untuk memotivasi mereka untuk berpegang teguh pada ‘kepercayaan’ dan ‘pengharapan’ (Ay.6), yang terinspirasi dari Yesus: ‘pandanglah...Yesus,’ (Ay.1).

Dalam renungan hari ini, si penulis mengutip Mazmur 95:7-11 (Ibrani 3:7-11). Menariknya, dia tidak menulis, ‘seperti yang [dulu] dikatakan Roh Kudus’ tetapi ‘seperti yang dikatakan Roh Kudus’ (Ay.7). Dia jelas percaya bahwa Roh Kudus terus berbicara melalui Kitab Suci dalam cara yang kontemporer kepada pembaca. Ketika Anda membaca Alkitab, mintalah Roh Kudus untuk berbicara pada Anda saat ini.

Meski telah mengalami saat pembebasan besar dari Mesir, umat Allah terjatuh dalam masa ujian di padang gurun (Ay.17). Ini adalah peringatan bagi kita: ‘Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa’ (Ay.12-13).

Salah satu obat atas ketidakpercayaan yang penulis soroti di sini adalah masyarakat. Si penulis meminta mereka untuk ‘menasihati seorang akan yang lain setiap hari’ (Ay.13). Inilah mengapa begitu pentingnya menjadi bagian masyarakat Kristen, yang menghabiskan waktu dengan Kristen lainnya, saling menguatkan dan membangun iman.

‘Tipu daya dosa’ adalah ungkapan yang menarik. Dosa itu memperdaya. Jika tidak, kita tak akan berdosa. Dosa biasanya ada label tipu-tipunya: ‘Ini bukan dosa, dan tak membahayakan kok.’ Tetapi, ketika kita masuk ke dalam dosa, pola buruk terbentuk, nurani kita sakit dan hati kita menjadi keras.

Di dalam inti dosa ada ketidakpercayaan. Sejak peristiwa Taman Eden, tipu daya dosa telah menyebabkan kita meragukan kebaikan Allah, kasih-Nya untuk kita dan firman-Nya. ‘Tentulah Allah berfirman... bukan?’ (Kejadian 3:1), ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati...’ (3:4). Anda selalu menelan kebohongan tentang Allah sebelum Anda menelan buah terlarang itu. Bagi kita saat ini, masih tetap sama. Jika kita benar-benar percaya kasih Allah untuk kita, kebaikan dan firman-Nya, kita tidak akan jatuh ke dalam tipu daya dosa.

Karena umat Allah terus mengeluh, mereka tidak pernah memasuki peristirahatan Allah, yang merupakan satu hal yang mereka inginkan. Mereka tidak mempercayai penyediaan Allah. Mereka ‘murtad’ (Ibrani 3:12). Mereka tak bisa masuk peristirahatan Allah ‘karena ketidakpercayaan mereka’ (Ay.19). Ketika kita tidak percaya Allah, kita kehilangan damai sejahtera Allah. Temukanlah kedamaian dengan mengarahkan pandangan Anda pada Yesus, percaya pada-Nya dan mendengarkan Dia saat Dia berbicara pada Anda melalui Kitab Suci.

Doa

TUHAN, bantu aku saat ini untuk mengarahkan pandanganku pada Yesus. Tolong aku untuk tidak hidup dalam ketakutan dan ketidakpercayaan tetapi dalam keyakinan dan kedamaian.

Perjanjian Lama

Yoel 1:1–2:17

Judul

1Firman TUHAN yang datang kepada Yoël bin Petuel.
  Tulah belalang sebagai hukuman TUHAN
2 Dengarlah ini, hai para tua-tua,
  pasanglah telinga, hai seluruh penduduk negeri!
Pernahkah terjadi seperti ini dalam zamanmu,
  atau dalam zaman nenek moyangmu?
3 Ceritakanlah tentang itu kepada anak-anakmu,
  dan biarlah anak-anakmu menceritakannya kepada anak-anak mereka,
  dan anak-anak mereka kepada angkatan yang kemudian.
4 Apa yang ditinggalkan belalang pengerip telah dimakan belalang pindahan,
  apa yang ditinggalkan belalang pindahan telah dimakan belalang pelompat,
  dan apa yang ditinggalkan belalang pelompat telah dimakan belalang pelahap.
5 Bangunlah, hai pemabuk, dan menangislah!
  Merataplah, hai semua peminum anggur karena anggur baru,
  sebab sudah dirampas dari mulutmu anggur itu!
6 Sebab maju menyerang negeriku suatu bangsa
  yang kuat dan tidak terbilang banyaknya;
giginya bagaikan gigi singa,
  dan taringnya bagaikan taring singa betina.
7 Telah dibuatnya pohon anggurku menjadi musnah,
  dan pohon araku menjadi buntung;
dikelupasnya kulitnya sama sekali dan dilemparkannya,
  sehingga carang-carangnya menjadi putih.
8 Merataplah seperti anak dara yang berlilitkan kain kabung
  karena mempelai, kekasih masa mudanya.
9 Korban sajian dan korban curahan sudah lenyap
  dari rumah TUHAN;
dan berkabunglah para imam,
  yakni pelayan-pelayan TUHAN.
10 Ladang sudah musnah,
  tanah berkabung,
sebab gandum sudah musnah,
  buah anggur sudah kering,
  minyak sudah menipis.
11 Para petani menjadi malu,
  tukang-tukang kebun anggur meratap
karena gandum dan karena jelai,
  sebab sudah musnah panen ladang.
12 Pohon anggur sudah kering
  dan pohon ara sudah merana;
pohon delima, juga pohon korma dan pohon apel,
  segala pohon di padang sudah mengering.
Sungguh, kegirangan melayu
  dari antara anak-anak manusia.

13 Lilitkanlah kain kabung dan mengeluhlah, hai para imam;
  merataplah, hai para pelayan mezbah;
masuklah, bermalamlah dengan memakai kain kabung,
  hai para pelayan Allahku,
sebab sudah ditahan dari rumah Allahmu,
  korban sajian dan korban curahan.
14 Adakanlah puasa yang kudus,
  maklumkanlah perkumpulan raya;
kumpulkanlah para tua-tua
  dan seluruh penduduk negeri
ke rumah TUHAN, Allahmu,
  dan berteriaklah kepada TUHAN.
15 Wahai, hari itu!
  Sungguh, hari TUHAN sudah dekat,
  datangnya sebagai pemusnahan dari Yang Mahakuasa.
16 Bukankah di depan mata kita
  sudah lenyap makanan,
sukaria dan sorak-sorai
  dari rumah Allah kita?
17 Biji-bijian menjadi kering di dalam tanah,
  lumbung-lumbung sudah licin tandas,
rengkiang-rengkiang sudah runtuh,
  sebab gandum sudah habis.
18 Betapa mengeluhnya hewan
  dan gempar kawanan-kawanan lembu,
sebab tidak ada lagi padang rumput baginya;
  juga kawanan kambing domba terkejut.
19 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru,
  sebab api telah memakan habis
tanah gembalaan di padang gurun,
  dan nyala api telah menghanguskan
  segala pohon di padang.
20 Juga binatang-binatang di padang menjerit karena rindu kepada-Mu,
  sebab wadi telah kering,
dan api pun telah memakan habis
  tanah gembalaan di padang gurun.

2Tiuplah sangkakala di Sion
  dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus!
Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri,
  sebab hari TUHAN datang,
  sebab hari itu sudah dekat;
2 suatu hari gelap gulita dan kelam kabut,
  suatu hari berawan dan kelam pekat;
seperti fajar di atas gunung-gunung terbentang
  suatu bangsa yang banyak dan kuat,
yang serupa itu tidak pernah ada
  sejak purbakala,
dan tidak akan ada lagi sesudah itu
  turun-temurun, pada masa yang akan datang.
3 Di depannya api memakan habis,
  di belakangnya nyala api berkobar.
Tanah di depannya seperti Taman Eden,
  tetapi di belakangnya padang gurun tandus,
  dan sama sekali tidak ada yang dapat luput.
4 Rupanya seperti kuda,
  dan seperti kuda balapan mereka berlari.
5 Seperti gemertaknya kereta-kereta,
  mereka melompat-lompat di atas puncak gunung-gunung;
seperti geletiknya nyala api
  yang memakan habis jerami;
seperti suatu bangsa yang kuat,
  teratur barisannya untuk berperang.
6 Terhadapnya bangsa-bangsa gemetar,
  segala muka bertambah menjadi pucat pasi.
7 Seperti pahlawan mereka berlari,
  seperti prajurit mereka naik tembok;
dan mereka masing-masing berjalan terus
  dengan tidak membelok dari jalannya;
8 mereka tidak berdesak-desakan,
  mereka berjalan terus masing-masing di jalannya;
mereka menerobos pertahanan dengan tombak,
  mereka tidak membiarkan barisannya terputus.
9 Mereka menyerbu ke dalam kota,
  mereka berlari ke atas tembok,
mereka memanjat ke dalam rumah-rumah,
  mereka masuk melalui jendela-jendela seperti pencuri.
10 Di depannya bumi gemetar,
  langit bergoncang;
matahari dan bulan menjadi gelap,
  dan bintang-bintang menghilangkan cahayanya.
11 Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya
  di depan tentara-Nya.
Pasukan-Nya sangat banyak
  dan pelaksana firman-Nya kuat.
Betapa hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN!
  Siapakah yang dapat menahannya?

Seruan untuk bertobat

12 “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN,
  “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu,
  dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”
13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu,
  berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu,
sebab Ia pengasih dan penyayang,
  panjang sabar dan berlimpah kasih setia,
  dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal,
  dan ditinggalkan-Nya berkat,
menjadi korban sajian dan korban curahan
  bagi TUHAN, Allahmu.

15 Tiuplah sangkakala di Sion,
  adakanlah puasa yang kudus,
  maklumkanlah perkumpulan raya;
16 kumpulkanlah bangsa ini,
  kuduskanlah jemaah,
himpunkanlah orang-orang yang tua,
  kumpulkanlah anak-anak,
  bahkan anak-anak yang menyusu;
baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya,
  dan penganten perempuan dari kamar tidurnya;
17 baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN,
  menangis di antara balai depan dan mezbah,
dan berkata: “Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu,
  dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela,
sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka.
  Mengapa orang berkata di antara bangsa:
Di mana Allah mereka?”
  Janji TUHAN kepada bangsa yang bertobat

Komentar

Di saat musibah melanda

‘Di saat musibah melanda, pemahaman akan Allah terancam’, tulis Eugene Peterson. Ada saat-saat di mana kita menghadapi sakit dadakan atau kematian orang yang kita kasihi, musibah nasional, gangguan sosial, kerugian personal, ketidakpastian ekonomi atau kehancuran akibat bencana alam. Peterson melanjutkan: ‘Tugasnya nabi adalah untuk tegak berdiri di saat-saat petaka dan menjelaskan siapa Allah itu dan bagaimana Dia bertindak.’

Nabi Yoel mendeskripsikan saat ketika bencana melanda, yaitu kerusakan besar yang disebabkan oleh wabah belalang. Ini peristiwa dan penglihatan sungguhan. Pernah ada wabah belalang yang melanda Yerusalem di tahun 915 sebelum Masehi. Kerusakan yang disebabkannya sangatlah hebat.

Kawanan besar belalang itu (tanpa insektisida) tak terhindarkan, tak terhentikan, dan tak terkalahkan. Merusak kebun anggur, anggrek dan, hasilnya, semua gagal panen. Ternak tak bisa makan. Belalang-belalang itu seperti tornado yang bergerak di seluruh negeri.

‘Wahai, hari itu! Sungguh, hari TUHAN sudah dekat’ (1:15). Gambaran belalang-belalang ini diambil dalam Kitab Wahyu dan digunakan sebagai gambaran kesengsaraan penghakiman terakhir (Wahyu 9:7-11).

Yesus sendiri menggunakan bahasa dari Yoel pasal 2, ‘matahari dan bulan menjadi gelap, dan bintang-bintang menghilangkan cahayanya’ (Yoel 2:10; lihat juga Matius 24:29), dalam deskripsi-Nya tentang penghakiman terakhir.

Respon apa yang harus kita tunjukkan terhadap semua ini? Tak ada dari kita yang suka akan permintaan maaf yang setengah-setengah, begitu juga Allah. Dia mencari pertobatan yang murni: ‘Tetapi sekarang juga, demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya’ (Yoel 2:12-13).

Di tengah nubuatan-nubuatan penghakiman ini, terdapat harapan. Ketika Anda berbalik pada Allah dan mencari pengampunan-Nya, Anda tidak perlu lagi takut terhadap penghakiman terakhir. Yoel menggunakan gambaran sangkakala yang ditiup untuk menyatakan hari penghakiman (Ay.1).

Di Perjanjian Baru, Paulus menggunakan gambaran yang sama untuk mendeskripsikan bagaimana Yesus telah menaklukkan kematian, dan membuat pengampunan dan keselamatan terjadi, ‘dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubahkan... Maut telah ditelan dalam kemenangan... syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita’ (1 Korintus 15:52-57).

Doa

Bapa, terimakasih karena Engkau penuh anugerah dan belas kasihan, baik, dan penuh ampunan. Tolong aku, ketika aku menunggu dengan yakin hari kedatangan-Nya, untuk mengarahkan pandanganku pada Yesus.

Pippa menambahkan

Ibrani 3:1

‘... pandanglah... Yesus’

Mengarahkan pandangan terkadang seperti menggiring kucing. Pandangan saya cenderung kemana-mana. Untuk membuat pandangan saya tetap ‘terarah’, perlu dengan sadar mengesampingkan daftar tugas saya dan mendengarkan suara Allah.

reader

App

Download The Bible with Nicky and Pippa Gumbel app for iOS or Android devices and read along each day.

reader

Email

Subscribe now to receive The Bible with Nicky and Pippa Gumbel in your inbox each morning. You’ll get one email each day.

reader

Website

Start reading today’s devotion right here on the BiOY website.

Read now

Referensi

Eugene Peterson, The Message, 'Introduction to Joel', (NavPress, 1993), p.1225.

Unless otherwise stated, Scripture quotations taken from the Holy Bible, New International Version Anglicised, Copyright © 1979, 1984, 2011 Biblica, formerly International Bible Society. Used by permission of Hodder & Stoughton Publishers, an Hachette UK company. All rights reserved. ‘NIV’ is a registered trademark of Biblica. UK trademark number 1448790.

Scripture marked (MSG) taken from The Message. Copyright © 1993, 1994, 1995, 1996, 2000, 2001, 2002. Used by permission of NavPress Publishing Group.